Kamis, 14 Agustus 2014

Mudik PUlang KamPUng Part 2




Mudik adalah suatu rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan dalam agenda tahunan seorang perantau. Hal ini wajib dan sudah telah lama berjalan indonesia maupun diluar negeri. Sama halnya yang aku lakukan pada tahun ini. Yah, mungkin tahun ini merupakan mudik yang paling berharga dalam sejarah perjalanan mudik yang sebelumnya pernah aku lakukan. Bagaimana tidak, berbagai rintangan dan cobaan serta warna-warni kehidupan aku temui baik dalam arus mudik perjalanan Pulang kamPUng, aktivitas selama berada di kamPUng, maupun arus balik yang aku lakukan.

Mudik kali ialah mudik yang pertama bagiku sebagai penyandang status mahasiswa yang menompang masa depannya di negeri orang. Aku seorang mahasiswa yang selama setahun lamanya menghabiskan waktu untuk belajar mencari ilmu di kota Kendari . Selama perjalanan mudik PUlang kamPUng berbagai temuan warna-warni hidup telah jajani satu persatu, kini saatnya aku memulainya di kamPUng tercinta. Perjalanan yang cukup melelahkan, dua rute sekaligus aku habiskan dalam 1 hari. Setelah tiba di Kota tercinta kota BauBau, kini giliran melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman ayah dan ibu yaitu desa Talaga I.

Kondisi yang sangat memprihatikan keadaan desa ini. Infrastruktur yang terbatas dan ditambah dengan keadaan jalan raya yang telah berlubang-lubang yang sementara dalam proses pengaspalan, manakala keadaan inilah yang membuat kebanyakan orang kecelakaan dalam berkendara selama berada di jalan raya. Bahkan tercatat meurut pengamatan warga, selama menjelang ramadhan telah terjadi 3 kecelakaan di poros jalan berlubang tersebut. Keesokan harinya, , saya dan tetangga lainnya berbondong-bondong membantu para pekerja jalan raya untuk mengangkatkan batu-batu kerikil kedalam badan jalan guna cepat terselesaikannya jalan tersebut dan dapat digunakan kembali sehingga tidak mencelakai banyak orang. Waktu kurang lebih 2 minggu lamanya aku menghabiskan waktuku bersama keluarga. Selama 2 minggu tersebut aku membantu ibu membuat takjil berbuka puasa kemudian di jual dipasar terdekat pada sore harinya. Entah apa yang harus aku katakan saat itu, senang , gembira, suka, bercampur baur dalam suasa tersebut, Pulang kampung yang sangat bermanfaat yang setiap harinya dilewati dengan penuh suka cita membantu ibu berjualan kue dipasar. Lepas kangen dan rindu bersama ibu terpancar dalam momen tersebut. 
Rumah ayah dan Ibu dikampung.
Kemudian pada siang harinya saya dan teman-teman menggalang dana untuk membantu saudar-saudara di GAZA, dana yang dikumpulkan melalui dana ikhlas dari masyarakat yang kami peroleh dengan cara mengunjungi dari rumah ke rumah. Siang bolong aktivitas tersebut kami lakukan bersama-sama, tak kenal lelah maupun letih yang bertepatan dengan berpuasa,namun usaha kami untuk membantu mereka sangatlah besar. Setelah menggalang dana, kemudian aku melanjutkan aktivitas yang seperti biasanya yaitu menjual takjil berbuka puasa. Ramadhanpun mulai berlalu yang kemudian disambut hari yang fitri, silahturahim dimana-mana, rumah kakek-nenek buyut,kakek-nenek, serta keluarga-keluarga lainnya hal ini kulakukan demi terjalin eratnya hubungan keluarga kami. Haripun tiba pada saatnya meninggalkan ibu serta kampung halaman tercinta, saat untuk kembali ke peraduan gerbang ilmu kesuksesan. Tiba saatnya kembali untuk melalui rintangan di tengah lautan yang dilalui 2 rute sekaligus, Talaga-BauBau-Kendari. 
Perjalanan Rute Talaga -BauBau

Untuk rute pertama yaitu rute Talaga – BauBau, suatu momen arus balik yang sangat menakutkan. Ombak yang begitu kencang yang hampir mematahkan kapal yang kami tumpangi, rintihan tangisan ketakutan anak-anak maupun orang tua berhamburan dimana-dimana. Yang dapat aku lakukan hanyalah banyak bertawakal dan berdoa kepada sang pencipta agar aku selamat hingga ketempat tujuan. Alhamdulillah , kami masih sempat diberi umur untuk menimati indahnya alam ini. 

Kemudian rute selanjutnya BauBau-Kendari. Setelah sesampainya dipelabuhan murhum kota baubau, aku bergegas ke loket penjualan tiket kapal rute kendari, namun aku kehabisan tiket, terpaksa yang kulakukan hanyalah berdiri selama 6 jam sama halnya yang aku lakukan saat arus mudik.

Rute BauBau-Kendari
Mabuk ,sakit kepala akibat hantaman ombak tak mematahkan semangatku untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Setelah ditengah perjalanan, ombak yang ke dua kalinya aku hadapi, namun lebih dahsyat lagi ombak yang satu ini, bahkan membuat sedikit air laut masuk ke dalam kapal. Orang-orang pada ketakutan, mereka takut bakal terjadi seperti kapal yang tenggelam diperairan Buton 2 hari sebelumnya.

Setibanya dikota Kendari, rintangan berikutnya yang menghampiriku. Perjalanan menuju asrama begitu memerlukan kesabaran yang cukup, hal ini dikarenakan sepanjang 1 Km terjadi kemacetan. Namun hal itu dapat diselesaikan dengan adanya kesabaran. Ternayata, Tidak ada tempat menginap yang aku gunakan untuk beberapa hari. Asrama yang aku tinggali selama ini belum melakukan operasi seperti biasanya melainkan tiga hari lagi. Namun seorang teman yang tak ku kenal mengajakku untuk menginap dikamar kos-kosannya. Teman tersebut merupakan orang yang duduk bersebelahan saat diatas kapal dan ia juga merupakan seorang mahasiswa. Dan begitulah warna-warni kehidupanku menjadi seorang pemudik yang berkehidupan pas-pasan.
Ini momen mudikku, mana momen mudikmu?

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Chemistry Life